Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) & Makrab 2016/17

LDK & Makrab Mhs 2016, Bogor, 4-5 Maret 2017

 

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) & Makrab 2016/17, Ciawi-Bogor. Bersama mahasiswa baru. Acara berlangsung mulai tanggal 4 – 5 Maret 2017. Peserta memahami berbagai hal tentang character bulding, sponsorship dan cinta almamater. Pemateri berpengalaman SEL-C yang di pimpin Bpk. Yudi Susworo, S.Sos, MM. Teguh selaku Ketua Panitia melaporkan kepada reporter [buletin-TN]

Ekonomi Kerakyatan

Ir. Markiz Yudiawan, MT (Dosen Tetap STIE-TN), Pembina YPTNJ | STIE-TN, Ketua Masyarakat Peduli Produk Indonesia (MPPI) & CEO & Owner PT Mega Persada Indonesia

Salam WiraTN !

Di dunia kegiatan ekonomi adalah kegiatan tertua. Setiap bayi yang lahir membutuhkan air susu untuk agar bertahan hidup. Dan air susu tidak didapatkan cuma-cuma. Jika air susu ibu mencukupi, selanjutnya adalah bagaimana agar sang ibu dapat mengkonsumsi makanan yang bergizi. Karena jika tidak mencukupi, susu kaleng pun jadi.

Membeli untuk sang ibu atau susu kaleng merupakan aktivitas ekonomi. Sebelum uang ditetapkan sebagai alat tukar. Sistem tukar barang “barter” menjadi pilihan masyarakan dimasa itu. Dengan sistem barter, aktivitas ekonomi bergerak dan akan terus bergerak menjawab setiap desakan kebutuhan manusia.

Pertumbuhan ekonomi semakin tinggi dengan adanya alat tukar “uang”.

Dulu, uang sebagai alat pembayaran. Uang penemuan fenomenal dan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kenapa demikian? Karena uang mampu menghilangkan ketidak cocokan pertukaran atau perdagangan. Dalam konteks ini uang merupakan SOLUSI.

Kini, kebanyakan manusia diperbudak oleh uang. Bagi mereka uang tidak sekedar solusi tetapi seolah-olah seperti Tuhan yang diagung-agungkan. Sehingga yang terjadi di negeri yang kita cintai, sang kaya semakin kaya dan sang miskin tetap semakin miskin. Sistem perekonomian tidak memihak kepada rakyat tetapi lebih memihak kepada Pemodal. Dalam konteks ini uang merupakan ILUSI.

Uang menjadi ILUSI bukan SOLUSI. Apakah anda setuju?

Apakah hidup tidak perlu Uang? Jawaban yang pasti tidak. Uang bukan segala. Uang bukan tujuan tetapi alat. Lebih jelasnya perlu diperkuat ekonomi kerakyatan “asli”. Yang dimaksud “asli” = “sejati”. Ekonomi kerakyatan sejatinya menjadi obat mujarab buat kita semua.

STIE Tunas Nusantara (STIE-TN) satu dari banyak PTS, berusaha menjadi lembaga pendidikan Ilmu ekonomi yang berbasis ekonomi kerakyatan “asli or “sejati”. Untuk mewujudkan cita-cita yang luhur, perlu dukungan teman-teman anak negeri. Mari kita bangun bangsa kita dengan karya-karya yang inovatif dan berorientasi Produk dalam negeri ! Ayo kita bangun tatanan kehidupan ini dengan kepedulian terhadap produk INDONESIA !

Masalah bangsa kita, tidak dapat sepenuhnya dipecahkan dengan cara asing. Kebanyakan baju asing tidak cocok dengan baju lokal. Masalah bangsa kita sepantasnya diselesaikan dengan cara INDONESIA.

Ilmu Ekonomi yang dipelajari di kebanyakan perguruan tinggi merupakan adopsi literatur-literatur asing “BARAT”. Sehingga kompetensi lulusan perguruan tinggi lebih berorientasi “CARA BARAT” bukan “CARA SEBAIKNYA”.

Apakah reformasi sistem pendidikan bidang ekonomi perlu dilakukan ? Caranya bagaimana? Siapkah kita mewujudkannya? Kapan di mulai? Setujukah anda jika kita bentuk wadah Membentuk MASYARAKAT PEDULI PRODUK INDONESIA?

Sebagai penutup pada kesempatan ini, pembangunan ekonomi tinggi mensyaratkan partisipasi masyarakat “entrepreneur” Indonesia. Artinya wirausahawan “indonesia jaya” harus tampil dalam jumlah yang cukup dan berdaya saing tinggi. Sekolah dan perguruan tinggi seharusnya lebih banyak mencetak wirausahawan daripada pekerja. Kewirausahaan sudah saatnya mendapatkan tempat di lingkungan pendidikan formal. Selama ini kewirausahaan hanya didominasi pendidikan informal.

Fenomena ITB mendeklasikan sebagai kampus “technopreneurship” merupakan pertanda kebangkitan pendidikan kewirausahaan di bumi pertiwi. Mudah-mudahan dapat diikuti kampus besar lainnya. Anda-kah selanjutnya? [stietn]

Hasil SPMB: kuliah atau bekerja

Iwan Darmawasnyah, SE, MM, Ak, CA

Oleh: Iwan Darmawansyah, SE, MM, Ak, CA (Ketua STIE-TN)

Salam WiraTN !
Pengumuman SPMB sebentar lagi. Banyak harapan yang bergantung atas pengumuman yang memang mereka nantikan. Di tahun 1988 sampai 1990-an SPP kuliah di PTN hanya 120 ribu per semester dan jauh lebih murah daripada zaman sekarang yang berkisar jutaan, belasan juta bahkan ada yang ratusan juta. Salah satu penyebabnya adalah perubahan bentuk PTN menjadi BHMN

Selembar Kertas “SAKTI”
Dalam konteks lain dalam situasi akhir sebagai hasil proses sistem pendidikan nasional bahwa ternyata bekerja adalah pilihan terbanyak dari para lulusan SLTA sekarang. Padahal formasi pekerjaan yang bermodal kan hanya selembar kertas “ijazah” SLTA jumlahnya jauh lebih sedikit daripada pesertanya. Hal ini terjadi karena para lulusan sarjana banting harga “degradasi” mau berlomba-lomba bersaing dengan yuniornya, anak-anak lulusan SMA.
Banyaknya lulusan sarjana menjadi pengangguran merupakan tamparan bagi stakeholder sistem pendidikan itu sendiri, terutama pemerintah dan pengelola perguruan tinggi serta masyarakat kaya. Mereka perlu melakukan terobosan baru yang inovatif dan tepat sasaran. Dengan demikian penyelenggaraan pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan pasar tenaga kerja dan dunia usaha.

Mencoba Realistis
Kekuatan minat mereka untuk kuliah sesungguhnya cukup besar, tetapi mereka mencoba realistis. Kuliah dizaman sekarang mahal dan tidak terjangkau. Ditambah lagi dengan informasi bahwa para seniornya banyak yang menganggur. Seolah-olah SPMB menjadi pilihan pertama, utama, dan sekaligus terakhir mengingat biaya kuliah di PTS mahal dan tidak terjangkau. Jika ditanya bagaimana jika mereka tidak lulus SPMB? mereka menjawab pilihan selanjutnya tinggal satu, yaitu bagaimana saya dapat bekerja.
Sepintas keputusan bekerja adalah realistis. Tetapi terasa masih banyak ganjalannya, apalagi jika pola pikir ini berakar. Dengan hanya bermodal selembar kertas sakti , maka hakekatnya anak-anak negeri lebih memilih menjadi buruh daripada menjadi tuannya. Idealnya seharusnya mereka menjadi tuan dinegerinya sendiri !
Bagaimana nasib anak bangsa esok hari jikalau situasi ini tidak berubah ? Relakah kita, jika anak negeri sekedar menjadi buruh atas majikan “kapitalis” asing di negerinya sendiri?

Perjuangan perlu pengorbanan
Hidup adalah perjuangan. Pejuangan tak ada tanpa pengorbanan. Bagaimana solusinya? Apa yang harus kita lakukan? (IDS)